pandangan filsafat Essensialisme terhadap pendidikan

  1. 1.        Aliran Esensialisme

Aliran ini menganggap bahwa kebudayaan manusia masa lalu lebih pantas untuk dihidupkan kembali. Aliran ini menganggap bahwa kebudayaan lama itu telah ada semenjak peradaban ummat manusia dahulu, khususnya pada masa renaissance eropa kala itu yang tumbuh dan berkembang dengan megahnya, usaha untuk menghidupkan kembali ilmu pengetahuan, kebudayaan dan kesenian zaman Yunani dan Romawi kuno.

Singkatnya, essensialisme merupakan perpaduan antara ide-ide filsafat idealisme modern dengan realisme modern, dengan banyaknya pengikut dan pengembang pemikiran aliran kedua paham filsafat tersebut. Pertemuan dua aliran itu bersifat ekletik, yakni keduanya sebagai pendukung namun tidak melebur diri menjadi satu atau tidak melupakan jati diri masing-masing.Buku lain menyebutkan bahwa aliran ini memandang pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban manusia.

Kembali pada dua paham yang mendasari munculnya aliran ini, adalah idealisme modern dan realisme modern yang menjadi pembentuk corak essensialisme.Idealisme modern mempunyai pandangan bahwa realita sama dengan substansi gagasan-gagasan, pandangan-pandangannya lebih ke arah spiritual. Dibalik dunia ini ada jiwa yang tidak terbatas  yaitu Tuhan, yang merupakan pencipta kosmos. Idealisme modern obyektif mempunyai pandangan kosmis yang optimis, pandangan-pandangannya bersifat menyeluruh yang boleh dikatakan meliputi segala sesuatu. Atau dengan kata lain idealisme modern merupakan suatu ide manusia sebagai makhluk yang berpikir dan semua ide yang dihasilkan, diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan. Dengan menguji dan menyelidiki semua ide serta gagasannya, manusia akan mencapai suatu kebenaran yang berdasarkan kepada sumber yang ada yakni Tuhan.

Realisme modern menitik beratkan tinjauannya mengenai alam dan dunia fisik.Kualitas-kualitas dari pengalaman terletak pada dunia fisik, dan di sana terdapat sesuatu yang menghasilkan penginderaan dan persepsi-persepsi yang tidak bersifat mental.Realisme modern yang mendukung essensialisme biasa disebut realisme modern obyektif, karena mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam dan tempat manusia di alam.

Dengan demikian, jiwa di sini dapat diumpamakan sebagai cermin yang menerima gambaran-gambaran yang berasal dari dunia fisik, maka anggapan mengenai adanya kenyataan itu tidak dapat diartikan hanya sebagai hasil tinjauan yang berat sebelah, itu berarti bukan hanya dari subyek atau obyek semata, melainkan melalui pertemuan antara keduanya.

 

  1. 2.        Pandangan Essensialisme pada Pendidikan
  2. 1.      Pandangan Ontologis Essensialisme

Essensialisme memiliki pandangan bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang mampu memberikan kestabilan, serta nilai-nilai terpilih dan jelas ketataanya[1]. Nilai-nilai yang dipandang mampu memenuhinya adalah yang berasal dari kebudayaan dan filsafatnya yang korelatif selama empat abad belakang, dengan acuan masa Renaissance sebagai pangkal timbul aliran ini.

Aliran ini juga mempunyai pandangan humanisme, pandangan ini merupakan reaksi terhadap hidup yang hanya mengarah pada ke-dunia-an, serba ilmiah dan materialistik. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa tujuan pendidikan menurut aliran ini adalah untuk membentuk manusia yang bahagia dunia dan akhirat. Yang telah dijelaskan di atas merupakan ontologis essensialisme yang mempunyai konsep bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela dan yang mengatur isinya pun tiada cela. Pendapat ini mempunyai pengertian bahwa bentuk, sifat, kehendak dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata alam yang ada[2].

  1. 2.      Pandangan Epistemologi Essensialisme

Epistemologi pendidikan ala essensialisme menggunakan teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan. Manusia diharapkan mampu memahami realita konsep mikrokosmos dan makrokosmos menurut aliran ini. Pengertian mikrokosmos menurut pandangan idealisme menunjuk pada fakta tunggal pada tingkat manusia dan makrokosmos menunjuk pada keseluruhan alam semesta dalam arti susunan dan kesatuan kosmis. Pengertian tersebut menunjukkan dasar hubungan antara manusia dengan Tuhan. Bila manusia sudah mampu menyadari realita tersebut, maka manusia akan mengetahui pada tingkat atau kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestian-nya, yang mana berdasarkan kualitasnya tersebut manusia mampu memproduksi secara tepatpengetahuannya dalam benda-benda, ilmu alam, sosial dan agama.

Dalam epistemologi essensialisme ini, muncul perbedaan anggapan tentang jasmaniah dan rohaniah dalam kepribadian manusia antara idealisme dan realisme. Idealisme menganggap nahwa rohani adalah kunci kesadaran tentang realita, manusia mengetahui sesuatu realita hanya di dalam dan melalui ide rohaniah. Sebaliknya, manusia mengetahui realita di dalam melalui jasmani. Pikiran bersifat jasmaniah yang tunduk pada hukum-hukum fisis. Konsekuensi keduanya (unsur) adalah realita kepribadian manusia, baik filosofis maupun ilmiah harus melalui hal tersebut dan pendekatan rangkap yang sesuai dalam pelaksanaan pendidikan dan pada pengetahuan. Yang akan pemakalah bahas adalah pendekatan pada pengetahuan menurut penganut paham idealis dan realis.

  1. Pendekatan idealisme pada pengetahuan

Terdapat beberapa teori dan pendekatan yang dikemukakan kelompok idealis, antara lain:

  1. Manusia sendiri yang mengerti rohaninya, memberi pengertian bahwa kesadaran untuk mengerti realita yang lain adalah kebutuhan manusia itu sendiri. Rasio manusia adalah bagian dari rasio Tuhan yang Maha Sempurna.
  2. Menurut T.H. Green, diperlukan pendekatan personalisme yakni melalui introspeksi. Manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu hanya dengan kesadaran jiwa tanpa adanya pengamatan. Karena itu setiap pengalaman mental pasti melalui refleksi antara macam-macam pengamalan.
  3. Salah satu teori filsafat religious modern mengatakan bahwa apa yang dimengerti tentang sesuatu karena resonansi pengertian Tuhan.
    1. Pendekatan realisme pada pengetahuan

Realisme memiliki beberapa teori untuk pendekatan pada pengetahuan, antara lain :

  1. Teori Assosianisme

Teori ini lebih pada teori ilmu jiwa yang banyak dipengaruhi filsafat empirisme John Locke. Pikiran serta isi jiwa adalah asosiasi unsur-unsur penginderaan dan pengamatan. Filsuf-filsuf Inggris mengutarakan bahwa gagasan atau isi jiwa terbentuk dari asosiasi unsur-unsur yang berupa kesan-kesan, yang juga disebut tanggapan atau dapat diumpamakan sebagai atom-atom dari jiwa.

  1. Teori Behaviorisme

Perwujudan kehidupan mental tercermin pada tingkah laku, sebab manusia sebagai organisme merupakan totalitas mekanisme biologis, maka masalah tersebut tidak dapat dipisahkan dari lapangan pengalaman karena telah menginjak lapangan neorologis. Menurut teori ini, masalah pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari proses penanaman kondisi. Untuk itu ada teori sarbon, suatu penghayatan kejiwaan terdiri dari proses yang paling sederhana antara lain rangsang (stimulus) dari luar, yang kemudian disambut dengan respon (tanggapan). Proses tersebut yang kemudian disebut sebagai Sarbon. Proses selanjutnya akan berupa jalinan hubungan antara unsur-unsur dalam berbagai bentuk dan cara, proses ini disebut assosianism.

  1. Teori Koneksionisme

Menurutnya semua makhluk terbentuk tingkah laku oleh pola-pola connections between stimulus dan respon. Koneksionisme dianggap memiliki pandangan yang lebih dari teori assosianisme dan behavioisme karena menunjukkan bahwa dalam hal belajar, perasaan manusia mempunyai peranan terhadap tingkat keberhasilan belajar yang dilakukan.

 

  1. 3.      Pandangan Aksiologis Essensialisme

Pandangan aksiologis ini banyak dipengaruhi oleh pandangan ontologis dan epitemologis. Yang akan dibahas adalah teoi-teori nilai menurut pandangan idealisme dan realisme sebagai pembentuk atau pembina aliran essensialisme ini.

  • Teori Nilai menurut Idealisme

Menurut idealisme, sikap, tingkah laku dan ekspresi perasaan memiliki hubungan dengan kualitas baik dan buruk. Kelompok ini berpegangan bahwa hukum-hukum etika adalah hukum kosmos, karena itu seseorang dikatakan baik jika banyak melakukan interaksi di dalam dan melaksanakan hukum-hukum itu. George Santayana mengeluarkan sebuah sintesa yang mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal. Karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang turut menetunkan adanya kualitas tertentu[3]. Idealisme bersifat otoriter dalam pelaksanaan asas-asas nilai, namun tetap memberikan ruang dan mengakui kepada manusia untuk memilih dan melaksanakan asas-asas tersebut sesuai dengan dirinya sendiri.

  • Teori Nilai menurut Realisme

Prinsip yang dimiliki realisme sangatlah sederhana mengenai etika, melalui ontologi essensialisme itu sendiri. Mengenai keadaan manusia pada umumnya dan masalah baik atau buruk pada khususnya, disandarkan pada keturunan dan lingkungan. Perbuatan manusia adalah sebuah hasil kausalitas saling hubungan antara pembawaan-pembawaan fisiologis dan pengaruh dari lingkungan.

  1. 4.      Pandangan essensialisme mengenai belajar

Seperti biasa selalu ada dua pembahasan mengenai permasalahan yang berkaitan dengan essensialisme, karena aliran ini terbentuk dari dua paham. Yang pertama akan dibahas adalah pandangan idealisme pada belajar. Idealisme memulai tinjauannya dengan menitik beratkan pada kata “aku”. Bila seseorang belajar pada taraf permulaan, manusia mencoba memahami “aku”nya sendiri. Dan pengaruh pemikiran Immanuel Kant yang berpandangan bahwa segala pengetahuan yang dicapai manusia melalui indra memerlukan unsur apriori, yang mana tidak didahului oleh pengalaman. Dengan demikian, belajar dapat sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri[4].

Pandangan realisme pada belajar mencerminkan adanya semacam determinansi, ini didasarkan pada pemikiran seorang ahli sosiologi yang bernama Roose L. Finney. Beliau menerangkan tentang hakikat sosial dari hidup mental. Kemudian belajar diartikan oleh kelompok realis sebagai proses menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilai-nilai sosial angkatan baru yang timbul untuk ditambah, dikurangi dan diteruskan kepada angkatan berikutnya. Cerminan determinasi ada dua yakni determinasi mutlak yang menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya, yang bersama-sama membentuk dunia ini. Pengenalan ini pun perlu adanya penyesuaian, agar tercipta suasana hidup yang harmonis. Yang kedua adalah determinasi terbatas yang memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar. Meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka, namun pengawasan akan sangat diperlukan.

  1. 5.      Pandangan essensialisme mengenai kurikulum

Tokoh-tokoh idealisme memandang kurikulum seharusnya berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Salah satunya adalah Herman Harrel Horne, dalam bukunya mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan atas fundamen tunggal, yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik, seperti keaktifan dan perilaku-perilaku yang tidak bertentangan dengan fundamen tertentukan.

Tokoh lain, Bogoslousky menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran, kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian, yakni:

  1. Universum

Pengetahuan merupakan latar belakang adanya kekuatan segala manifestasi hidup manusia. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam.

  1. Sivilisasi

Karya-karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan terhadap lingkungannya, mengejar kebutuhan dan hidup aman sejahtera.

  1. Kebudayaan

Kebudayaan merupakan karya manusia yang mencakup filsafat, kesenian, kasusasteraan, penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan.

  1. Kepribadian

Usaha yang bertujuan agar faktor-faktor fisik, fisiologi,emosional dan intelektual sebagai keseluruhan dapat berkembang harmonis.

Sedangkan realisme mengungkapkan kurikulum akan bersifat harmonis bila disusun atas dasar pikiran yang mengumpamakan susunan balok-balok dari yang sederhana sampai yang paling kompleks. Susunan ini dapat diibaratkan susunan dari alam, yang sederhana merupakan dasar-dasar dari susunan yang komplek. Di sisi lain, Robert Ulrich berpendapat bahwa meskipun kurikulum disusun agar fleksibel, fleksibilitas itu tidak dapat tepat bila diterapkan pada pemahaman mengenai agama dan alam semesta. Bahkan Butler mengemukakan bahwa sakralisasi kitab suci harus ditancapkan pada pemahaman setiap anak didik angkatan baru. Sedangkan tokoh lain dari Eropa Timur yakni Demihkevich menghendaki agar kurikulum berisikan moralitas yang tinggi.


[1] Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, 1991, hal. 21

[2] Jalaluddin, Filsafat Pendidikan: Manusia, filasafat dan Pendidikan, 1997, hal. 83

[3]Jalaluddin, Filsafat Pendidikan: Manusia, filasafat dan Pendidikan, 1997, hal. 86-87

[4]Poedjawijatna, manusia dengan alamnya (filsafat manusia). 1983 : 121

About these ads

About alfablitar

sangat suka ketenangan

Posted on April 18, 2012, in Pendidikan Agama Islam. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 106 other followers