Manusia dan Optimisme

  1. Optimisme

Optimis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti orang yang selalu berpengharapan baik dalam menghadapi segala hal. Sedang optimisme berarti keyakinan atas segala sesuatu dari segi kebaikan dan menyenangkan; sikap yang selalu mempunyai harapan baik di segala hal. Sebagaimana arti di atas optimisme dapat pula dikatakan selalu mencari kebaikan dalam segala sesuatu dalam situasi apapun bahkan dalam situasi yang buruk.

Keoptimisan seseorang sangatlah bergantung pada tingkat keyakinan kepada Tuhan. Karena seseorang yang memiliki keyakinan bahwa Tuhan itu ada dan mereka yakin bahwa Tuhan selalu menjadikan Rahmat-Nya kepada makhluk dan segala sesuatu akan kembali kepada-Nya. Sikap optimis dapat memberikan dorongan kepada manusia untuk mengejar segala yang diinginkannya entah mimpi yang baik maupun yang buruk. Cara yang dipakai manusia dapatlah sesuai dengan norma-norma, hukum dan kaidah agama namun juga mampu untuk menjadikan manusia yang mengejar keinginannya dengan cara yang keluar dari jalur kebenaran.

Pelanggaran-pelanggaran yang terjadi kala manusia mengejar keinginannya dapat terjadi karena beberapa faktor, antara lain:

  1. Faktor lingkungan
  2. Faktor sosial-ekonomi
  3. Faktor pendidikan

Kurangnya kekuatan iman dari seseorang, kurangnya pendidikan mental yang diterima seseorang dan kurangnya rasa percaya diri juga mengakibatkan pelanggaran-pelanggaran dalam usaha mencapai harapan.

Sebenarnya harapan baik/optimisme itu adalah sesuatu yang terkandung dalam hati setiap manusia yang merupakan karunia Tuhan kepada manusia dan sifatnya yang terpatri serta sukar, untuk dilukiskan sehingga mampu untuk memberikan berbagai macam dorongan kepada kita sebagai makhluk yang berakal.

Sementara itu manusia yang seringkali hanya memperhatikan sisi gelap dari suatu peristiwa yang dialaminya dan mengharapkan atau membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi adalah sikap pesimis. Sikap pesimis adalah lawan dari sikap optimis yang sedang kita bahas. Pesimis membawa manusia pada sikap yang seringkali tanpa usaha dalam hidupnya, tidak pernah merasa yakin atas segala sesuatu, berpikiran negatif, dll.

Namun, dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Prof. Dr. Quraish Shihab, MA. Pada suatu kesempatan menyampaikan bahwa pendapat tentang ke-optimis-an yang berarti seorang yang optimistis atas segala sesuatu yang baik. Padahal dalam suatu harapan ada harapan yang berdasar dan harapan yang tidak berdasar. Memang optimisme berkaitan dengan sesuatu yang menyenangkan hati dan dinanti-nantikan kedatangannya. Namun, kebanyakan ulama’ berpendapat bahwa sesuatu baru dinamai optimisme selama sebab-sebab dan alasan  yang diharapkan tersebut mempunyai cukup banyak alasan yang jelas dan cukup logis.

Menurut hemat penulis, beliau menganggap optimisme sama halnya dengan husnudzon (sangka baik) sangat dianjurkan dalam mengarungi berbagai segi kehidupan, terlebih lagi harapan baik menjelang kematian manusia tetapi dengan syarat-syarat yang telah tersebut di atas. Dalam sebuah karya tulis Imam Ghazali dituliskan “dunia adalah ladang akhirat, hati manusia bagaikan tanah dan iman ibarat benihnya, ketaatan-ketaatan mengalir seperti aliran air, dan pemupukan untuk menguatkannya”. Secara umum berarti anjuran agama kepada pemeluknya untuk selalu optimis dalam hidupnya adalah anjuran untuk memperbanyak sebab-sebabnya (harapan yang tidak semu). Kalau manusia menabur benih di tanah yang subur, dengan pengairan yang cukup maka mereka boleh beroptimis. Sedangkan, bila benih yang ditabur manusia di tanah yang gersang dan kurang pengairan atau bahkan tidak menburkan benih maka manusia tersebut adalah termasuk golongan yang terperdaya (harapan tak berdasar).

Kita (manusia) adalah apa yang kita pikirkan. Maka dari itu prasangka baik manusia pada dirinya sendiri adalah suatu kebutuhan apalagi kepada Tuhan, sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an “Aku adalah sebagaimana prasangkamu terhadap-Ku”.

Dalam sebuah hadist  yang diriwayatkan Imam Muslim “Siapa yang percaya bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka Allah akan mengaharamkan baginya api neraka”. Bahkan manusia diharapkan untuk tidak pesimis terhadap Rahmat Allah yang tiada habisnya. Dan dari hadist di atas dapat kita ambil sedikit pengertian bahwa, pada lazimnya keimanan seseorang kepada Allah dapat mempengaruhi amal perbuatan seseorang, maka walau bagaimana ia  akan beramal kalau  masih ada iman dalam dirinya akan kembali pada perbuatan yang baik. Karena keimanan mampu membawa manusia keluar dari perbuatan buruk. Atau dengan kata lain keimanan menghasilkan optimis dalam diri manusia dan optimis melahirkan manusia yang melakukan perbuatan yang tidak keluar dari kaidah/norma hukum maupun agama.  

  1. Ciri-ciri optimis

Dalam sebuah buku karya Alan Loy McGinnis, menyatakan bahwa salah satu ciri dari orang yang selalu optimis dalam hidupnya adalah selalu mencari kebaikan dalam situasi yang buruk, atau dengan kata lain kegagalan adalah sukses yang tertunda.

Terdapat beberapa ciri orang yang selalu optimis dalam kehidupannya menurut hemat saya, antara lain:

  1. Optimis melahirkan sikap seseorang yang jarang merasa terkejut dalam menghadapi kesulitan.
  2. Merasa yakin akan pengendalian diri atas masa depan mereka.
  3. Menghentikan pemikiran-pemikiran negatif.
  4. Selalu merasa gembira meski tidak dalam keadaan gembira.
  5. Menumbuhkan rasa cinta dalam kehidupan.
  6. Merasa yakin akan kemampuan meraka yang terbatas.

demikian sedikit bagi-bagi pengetahuan dari saya. sekian

About alfablitar

sangat suka ketenangan

Posted on February 7, 2012, in Pendidikan Agama Islam. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s