Krisis sosiologis pedesaan (anarki dan radikal)

Krisis ini berkaitan sangat erat dengan krisis kependudukan dan ekologi, yang mana disebabkan rakyat menghadapi jalan buntu dalam mencari pemecah persoalan yang mereka hadapi. Ke mana mereka harus  mengadu oleh persoalan-persoalan atau krisis-krisis yang dihadapi mereka. Negara (beserta aparaturnya) seakan menjadi sosok-sosok yang asing bagi mereka, yang demikian terjadi karena negara hanya (suka) mendengar bukan suara-suara dari orang desa melainka dari pihak-pihak yang selama ini berseberangan dengan orang-orang desa seperti pemilik modal, dll.

Hal-hal tersebut di ataslah yang saya rasa menjadi penyebab terjadinya anarkisme dan radikalisme. Bila rakyat menjadikan anarkisme dan radicalisme sebagai habitus / kebiasaan / cara hidup, tentu bukanlah ciri daripada orang Indonesia yang dikenal berperilaku santun, ramah, toleransi dll. Kekerasan dan anarki juga bukanlah cita-cita dari para bapak pendiri bangsa (founding fathers) bangsa Indonesia tatkala menyusun landasan-landasan bangsa (pembukaan UUD ’45).

Namun, kekerasan demi kekerasan yang terus terjadi adalah sekadar reaksi atas kekerasan-kekerasan yang kerap menimpa rakyat dan dilakukan oleh golongan-golongan yang seharusnya menjadi pelindung mereka.

Kekerasan yang dilakukan oleh rakyat menjadi absah karena didahului Negara melakukan kekerasan melalui keputusan-keputusan yang menekan orang-orang marjinal (desa dll.), keputusan-keputusan tersebutlah yang mengakibatkan semakin berkurangnya sumber-sumber penghidupan orang desa. Bahkan bila muncul keputusa atau hukum baru, terkesan semakin memarjinalkuan orang-orang desa. Padahal kebanyakan dari orang desa, hanya menginginkan hidup layak atau hidup cukup hanya dari sumber-sumber penghidupan desa.

Hulu dari segala kekerasan yang sebenarnya sangatlah sederhana. Karena kekerasan adalah cara untuk menjemput kesempatan bertahan hidup di negeri ini secara wajar. Namun, kewajaran yang seharusya diperoleh semua lapisan masyarakat tidak kunjung tercapai. Maka, kebertahanan hidup harus dicapai atau direbut dengan cara kekerasan (bahkan sadistis). Adalah sebuah situasi yang sangat mengenaskan bila terjadi hal-hal tersebut di negeri damai ini.

Terinspirasi dari e-mail terbuka salah seorang dosen ITB teruntuk Presiden SBY.

About alfablitar

sangat suka ketenangan

Posted on March 6, 2012, in Umum. Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s