Religiositas anak dan implikasinya terhadap Pendidikan Agama Islam (PAI)

Perkembangan Religiusitas Usia Anak dan Implikasinya dalam PAI

Oleh: Muhammad Habib Alfauzi

 

  1. A.    Pengantar

Religiusitas yang berkembang pada manusia sejak usia dini merupakan proses perpaduan antara potensi bawaan keagamaan dan pengaruh yang datang dari luar diri manusia itu sendiri. Dalam proses perkembangan tersebut akan terbentuk macam, sifat, serta kualitas religiusitas yang akan terekspresikan pada perilaku kehidupan sehari-hari.

Salah satu pengaruh yang datang dari luar manusia itu adalah saat manusia tersebut mencapai usia-usia sekolah, khususnya pada usia dini (sekolah dasar). Usia sekolah dasar adalah saat yang paling fundamental pada perkembangannya dan mempunyai keterkaitan yang besar dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

Dalam tulisan ini saya akan mencoba membahas tentang perkembangan religusitas usia anak, karakteristik-karakteristik dan implikasinya dalam pembelajaran PAI pada usia anak.

  1. B.     Pembahasan

Perkembangan religiusitas anak-anak melalui beberapa fase (tingkatan)[1]. Dalam buku The Development Of Religion On Children, dikatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak  itu melalui tiga tingkatan, yaitu:

  1. The Fairy Tale Stage (tingkat dongeng)

Biasanya tahap ini terjadi pada saat anak berusia 3-6 tahun. Pada tahap ini, konsep ke-Tuhanan anak lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Karena anak masih tertarik pada khayalan-khayalan belaka. Maka pada tingkatan ini alangkah baiknya anak diberikan stimulus dongeng-dongeng tentang agama yang dapat dicerna oleh anak. Namun kesemuanya itu bergantung juga pada tingkat intelektual anak.

  1. The Realistic Stage (tingkat kenyataan)

Tahap ini dilalui anak sejak usia 6-adolensen. Pada masa ini, ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realitas). Konsep ini timbul dari lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. Pada masa ini ide keagamaan anak dapat didasarkan atas dorongan emosional, hingga mereka dapat melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Berdasarkan hal itu, maka pada masa ini anak-anak tertarik dan senang pada lembaga yang mereka lihat dikelola oleh orang dewasa dalam ligkungan mereka. Segala bentuk tindakan (amal) keagamaan mereka ikuti dan pelajari dengan penuh minat.

Karena tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap sebelumnya, maka anak membutuhkan pendampingan dari orang tua maupun masyarakat (lingkungan) dengan benar.

  1. The Individual Stage (tingkat individu)

Pada tingkat ini anak mempunyai kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka, konsep keagamaan yang individualis ini terbagi menjadi tiga golongan, yaitu;

  • Konsep ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh dari luar individu.
  • Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal.
  • Konsep ke-Tuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan ini pada setiap tingkatannya dipengaruhi oleh faktor intern, yaitu perkembangan usia dan faktor ekstern berupa pengaruh luar yang dialaminya.

Religiusitas anak adalah hasil dari suatu proses perkembangan yang berkesinambungan dari lahir sampai menjelang remaja. Dalam proses tersebut berbagai faktor, yakni faktor intern dan faktor ekstern yang ikut berperan.

Sebenarnya dari tahap-tahap di atas dapat saya tarik kesimpulan, yang mana tahap anak meliputi tahap awal dan tahap akhir. Pada tahap awal antara usia 0-6 tahun bisa dikatakan dengan masa pewarnaan pada anak. Sedangkan usia 6-11 tahun merupakan masa penguatan. Satu hal lagi yang perlu diketahui dari perkembangan religiusitas usia anak adalah antara usia 0-11 tahun tersebut merupakan masa pembentukan religiusitas manusia.

Hal yang perlu diperhatikan pada masa ini adalah tentang kognisi anak, yang pengertiannya adalah manusia sejak dalam kandungan sudah menerima pengetahuan (melalui sensor pendengaran).

Terdapat karakteristik yang mendukung dalam perkembangan religiusitas usia anak. Antara lain adalah Ideas accepted on authority, Unreflective, Egocentric, Anthropomorphic, Verbalized and rituaistic, imitative, Spontaneous in some respect dan Wondering.

Dari kedelapan karakteristik perkembangan tingkat religiusitas tersebut, PAI mengambil peran penting terhadap perkembangan religiusitas anak di sekolah.

  1. Ideas accepted on authority

Semua pengetahuan yang telah dimiliki oleh anak datang dari luar dirinya, terutama dari orang tuanya dan di sini lah orang tua mempunyai otoritas penuh untuk membentuk tingkat releigiusitas anak.

  1. Unreflective

Anak pada usianya hanya menerima konsep keagamaan berdasarkan otoritas, kebanyakan dari mereka tidak pernah berusaha untuk merenungi konsep-konsep keagamaan  yang diterimanya. Dalam hal ini, orang tua dan guru khususnya guru PAI dirasa sangat perlu untuk penyampaian tentang konsep-konsep keagamaan secara benar dan jelas, sebagai contoh dongeng yang menarik, menyanyi, aneka permainan.

  1. Egocentric

Sejak anak berusia 1 tahun, dalam dirinya mulai muncul rasa bahwa segala sesuatu terpusat pada dirinya dengan kata lain muncul rasa egosentrisme. Maka dalam pemahaman religiusitas anak juga didasarkan pada kepentingan diri tentang masalah keagamaan.

Dilhat dari gejala yang terjadi pada anak usia tersebut, maka dirasa perlu kepada para pendidik agama Islam agar dalam penyampaian Pendidikan Agama lebih dikaitkan dengan kasih sayang Tuhan tercurah kepada anak tersebut, karena ketaatannya dalam menjalankan konsep keagamaan.

  1. Anthropomorphic

Sesuai dengan usia anak yang sifatnya sering mengaitkan keadaan sesuatu yang abstrak dengan manusia. Pada masa ini manusia dijadikan sebagai sandaran pada hal-hal yang lain. Begitu pula dengan konsep ke-Tuhanan bagi anak, anak akan mengaitkan sifat-sifat Tuhan dengan sifat manusia.

Dalam pembelajaran PAI, seorang guru harus menekankan pada perbedaan antara makhluk dengan Sang Khalik. Pemahaman akan perbedaan-perbedaan inilah yang akan semakin menguatkan tingkat religiusitas anak. Sebagai contoh, manusia sebagai makhluk tidak akan pernah menjadi kekal, berbeda dengan Tuhan yang hidup kekal abadi.

  1. Verbalized and rituaistic

Perilaku keagamaan seorang anak baik perilaku tersebut adalah ibadah maupun moral, masih sebatas pemahaman yang verbal, lahiriyah dan ritual tanpa ada keinginan untuk memahami makna dari ibadah dan moral tersebut.

Pembelajaran PAI seharusnya menjadikan konsep-konsep keagamaan tersebut sebagai kebutuhan anak atau rutinitas yang sulit dihilangkan. Perlu menekankan pada anak untuk pembiasaan perilaku dan pembentukan minat yang pasti akan berkembang sampai dirinya menginjak remaja dan mulai memahami konsep keagamaan sebagai kebutuhan dirinya.

  1. Imitative

Anak adalah peniru yang terbaik di dunia, bisa dikatakan seperti itu. Segala perilakunya adalah peniruan dari lingkungannya, terutama dari orang tua atau orang dewasa lain.

Di sekolah, anak akan menirukan perilaku orang dewasa lain seperti guru, maupun teman sebayanya. Dalam hal ini seorang guru harus mampu menjadi suri teladan bagi muridnya, agar terbentuk perilaku anak yang baik sesuai dengan konsep keagamaan yang benar.

  1. Spontaneous in some respect

Hampir sama dengan karakteristik imitative anak, namun sifat ini lebih pada perhatian spontan pada hal-hal baru. Hal-hal baru ini bisa terjadi pada masalah keagamaan. Dari anak akan muncul pertanyaan-pertanyaan tentang masalah keagamaan yang baru menurutnya. Dari pertanyaan inilah akan terbentuk tipe primer pengalaman religiusitas yang akan dan dapat dikembangkan pada masa mendatang, sesuai dengan pertumbuhan usianya.

Dalam hal ini, PAI bertugas memancing anak agar memunculkan reaksi spontan pada masalah keagamaan. Karena saat usia ini anak mempunyai rasa keingin tahuan yang tinggi pada hal-hal baru.

  1. Wondering

Sesuai dengan usianya yang mempunyai rasa keingintahuan tinggi pada hal baru, begitu juga munculnya rasa takjub pada hal-hal baru pun tentang konsep keagamaan.

Bagaimana anak menjadi takjub akan kebesaran-kebesaran Tuhan YME, kebenaran tentang agamanya, Rasul-rasul-Nya, adanya makluk selain manusia. PAI mempunyai andil besar dalam pengembangan religiusitas anak lewat wondering usia anak. Sebagai contoh, anak diberi cerita tentang mukjizat yang diberikan Allah kepada manusia-manusia utusannya, pastilah dia akan merasa takjub pada hal-hal baru tentang agama tersebut.


[1] Ernest Harms

About alfablitar

sangat suka ketenangan

Posted on March 6, 2012, in Pendidikan Agama Islam. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s